Pages

Kamis, 03 Januari 2013

Psikodiagnostik: Sebuah Rahasia (?)



Buku dan ebook yang membahas soal-soal psikotes, tips lolos seleksi psikotes, dan yang semacamnya sudah sering beredar di toko buku ataupun di dunia maya. Sebenarnya ingin sekali membeli dan mempelajari, apa yang dijual oleh buku atau ebook tersebut. Beberapa ada yang menjual gelar sarjana psikologi bahkan master psikologi sebagai penulis buku, ditambah testimoni dari pembeli yang mengatakan sukses lolos psikotes berkat buku tersebut.

Ketika mengetik kata kunci beberapa tes psikologis di internet, cukup banyak web dan blog yang membahasnya. Ada beberapa yang memberikan tips pengerjaan dan hasil scan dari sebuah alat tes. Beberapa lainnya hanya menuliskan gambaran umum alat tes, dan meluruskan pandangan orang awam. Satu hal yang menarik, sempat ada sebuah link yang mengarah pada dokumen diktat kuliah tes grafis milik fakultas psikologi sebuah universitas. Dalam dokumen tersebut setiap lembarnya diberi kaliamt peringatan untuk tidak mempublikasikan dan menyebarkan diktat tersebut ke khalayak umum. Aneh. Justru dokumen tersebut terbuka luas di internet tanpa pengamanan.

Saya sering bertanya sendiri, sejauh mana sebuah alat tes dapat dijelaskan di muka umum. Beberapa rekan menyebutkan tidak satu senti pun harus dijelaskan. Orang awam perlu tahu sebuah alat tes ketika mereka akan mengerjakannya. Namun ada yang beranggapan bahwa suatu saat alat tes akan berdiri mandiri dan dapat dikerjakan oleh semua orang. Tugas psikolog adalah memberikan penjelasan dari hail tes tersebut dan yang terpenting memberi saran apa yang harus dilakukan berikutnya.

Pandangan terakhir tersebut bertitik tolak dari profesi dokter. Misalnya alat tes kehamilan kini sudah  berdiri mandiri, namun tetap saja orang yang hamil akan pergi ke dokter kandungan. Alat pngukur gula darah sudah beredar luas, dan dokter penyakit dalam tetap menerima pasien DM. Akan ada kemungkinan alat tes psikologi berdiri mandiri dan dapat mengukur dinamika psikologis seseorang. Namun yang dapat mengartikan lebih jelas dan memberi penanganan tetaplah psikolog, dan pasti psikolog akan lebih dicari.

Hitam putih penjelasan alat tes psikologis sebagian besar berada dalam ranah seleksi. Entah seleksi karyawan, promosi, ataupun seleksi untuk masuk ke tingkat pendidikan tertentu. Pemahaman bahwa psikotes dalam seleksi bertujuan membantu menempatkan orang yang tepat sesuai kapabilitas, tampaknya tak menyentuh masyarakat. Masih ada segelintir orang yang berupaya mencari celah mengakali psikotes.

Hal yang menarik adalah ada psikolog yang kelimpungan bagai kehilangan senjata ketika tahu ada pihak-pihak yang menyebarluaskan alat tes. Menurut saya, justru kehebatan sebuah alat tes beserta psikolognya adalah kita mudah mengetahui ketika seseorang melakukan faking. Seseorang yang menjadi sangat sempurna dalam hasil pembacaan psikotes justru bisa menjadi indikasi telah terjadi sesuatu. Psikotes bukanlah ujian nasional yang jika mendapat nilai 10 semua bertepuk tangan.

Bahkan dalam tes kecerdasan, jika ada peserta yang mendapat pembacaam IQ diatas 120, tentunya akan mudah dilihat dalam riwayat hidupnya, dilihat dari tes kepribadiannya, dan dilihat dari wawancara. Mudah. Faking satu alat tes tak berarti bisa mengelabui alat tes lainnya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

please, feel free to express your opinion